
Rimpang Kunyit11
Curcuma domestica / Curcuma longa (Kunyit) adalah tanaman asli Indonesia yang telah digunakan sejak dahulu untuk mengatasi gangguan lambung seperti kembung, maag, dan masalah pencernaan lainnya.1 Selain untuk obat, pemanfaatan Kunyit juga sangat melekat dengan kehidupan kita sehari-hari sebagai bumbu masak dan pewarna makanan.
Morfologi Rimpang Kunyit
Rimpang Kunyit berwarna jingga sampai kemerahan atau kecoklatan. Bentuk rimpang bulat telur dan mempunyai anak rimpang. Rimpang terdiri dari rimpang induk dan rimpang cabangbersatu dalam bonggol, bentuk lonjong.2
Kandungan Kunyit
Rimpang Kunyit mengandung senyawa aktif yaitu Kurkuminoid yang terdiri dari Kurkumin sebanyak 10%, desmetoksikurkumin 1-5%, dan bisdesmetoksikurkumin. Di antara senyawa tersebut, Kurkumin merupakan senyawa paling banyak diteliti dan sering dijadikan sebagai senyawa standar untuk mengukur kualitas rimpang Kunyit.2
Khasiat Kunyit
Kesehatan Pencernaan/ Maag
Kunyit memiliki aktivitas gastroprotective yaitu melindungi lapisan mukosa pada lambung sehingga dapat membantu mengurangi iritasi lambung.1 Kandungan Kurkumin dalam Kunyit juga membantu memperbaiki kerusakan akibat asam lambung yang naik ke kerongkongan, mengurangi peradangan pada lambung, dan melawan bakteri penyebab sakit maag (Helicobacter pylori).3
Studi literatur:Subjek: 132 pasien functional dyspepsia (sakit lambung seperti kembung dan nyeri ulu hati tanpa penyebab jelas)
Dosis penelitian: Kurkumin (4x sehari @500 mg) dibandingkan Omeprazole (1x sehari @20 mg)
Durasi: 4 minggu
Hasil: Diperoleh skor kepuasan lebih tinggi pada kelompok Kurkumin dibandingkan dengan kelompok omeprazole walaupun tidak signifikan. Kurkumin dapat memperbaiki gejala dispepsia, meningkatkan kualitas hidup, dan memberikan kepuasan yang setara dengan Omeprazole dalam pengobatan functional dyspepsia.4
Mekanisme kerja kurkumin dalam perlindungan esofagus dan lambung 10
Anti Peradangan
Kurkumin bekerja sebagai antiinflamasi dengan menekan aktivitas zat pemicu peradangan di tubuh. Kurkumin juga menghambat jalur reaksi peradangan di dalam sel.5 Melalui efek anti inflamasinya yang kuat, Kurkumin bermanfaat untuk membantu mengatasi berbagai penyakit akibat peradangan seperti radang sendi, nyeri, pegal linu.
Studi literatur:Subjek: 45 pasien Rheumatoid arthritis (Peradangan sendi), usia 18-65 tahun
Dosis penelitian: Kurkumin (2x sehari @500 mg) dibandingkan Natrium Diklofenak 2x sehari @50 mg
Durasi: 8 minggu
Hasil: Kurkumin menunjukkan hasil yang signifikan pada perbaikan gejala Rheumatoid arthritis seperti bengkak dan nyeri sendi dibandingkan Natrium Diklofenak. Kurkumin secara umum aman dan dapat ditoleransi dengan baik pada sebagian besar subjek dan tidak menimbulkan efek samping.6
Antioksidan
Kunyit dan kandungan Kurkuminnya memiliki efek antioksidan kuat, kurang lebih sebanding dengan vitamin C dan E. Kurkumin membantu tubuh menetralisir zat berbahaya seperti radikal bebas dan oksigen reaktif yang bisa merusak sel. Dengan begitu, Kurkumin dapat melindungi organ penting seperti otak, hati, dan ginjal dari kerusakan akibat stres oksidatif.7
Studi literatur:Subjek: 46 pasien NAFLD (Non alcoholic Fatty Liver Disease) usia 20 – 60 tahun
Dosis penelitian: Bubuk Kunyit (6x sehari @500 mg)
Durasi: 12 minggu
Hasil: Konsumsi Kunyit dapat mengurangi komplikasi penyakit NAFLD (penyakit hati akibat gangguan metabolisme). Hal ini diamati dari menurunnya kadar gula darah, dan hormon yang mengatur metabolisme lemak serta energi, yaitu insulin dan leptin. Dengan menurunnya parameter tersebut, fungsi hati menjadi lebih baik karena penumpukan lemak di hati dapat berkurang.8
Imunitas
Kurkumin dapat membantu menyeimbangkan sistem imun dengan menurunkan sel proinflamasi memengaruhi kerja sel imun tubuh seperti sel T helper dan sel T regulator. Dengan demikian, sistem imun menjadi lebih terkontrol dan tidak merusak jaringan tubuh.12Subjek: ± 480 pasien COVID-19
Dosis penelitian: 80-950 mg/hari
Durasi 2–3 minggu
Hasil: Pemberian curcumin pada pasien COVID-19 terbukti dapat menurunkan peradangan dalam tubuh, meningkatkan jumlah sel imun (limfosit), serta membantu mengurangi keparahan gejala dan mempercepat pemulihan.12
Sebesar 80% sistem kekebalan tubuh terdapat dalam saluran pencernaan. Artinya, saluran cerna bukan hanya berfungsi untuk menyerap nutrisi, tetapi juga sebagai benteng pertahanan pertahanan alami tubuh untuk mencegah masuknya virus, bakteri, dan senyawa patogen (penyebab penyakit).13 Pada salah satu penelitian, konsumsi Kurkumin terbukti dapat meningkatkan jumlah dan keragaman bakteri baik di usus secara signifikan, bahkan hingga sekitar 69%,
dibandingkan dengan plasebo yang justru mengalami penurunan.14 Keragaman mikrobiota usus ini dapat mendukung keseimbangan sistem imun.7
Keamanan
Berdasarkan studi literatur, kunyit telah menunjukkan efektivitas dan keamanan pada manusia. Namun, salah satu keterbatasannya adalah bioavailabilitas yang relatif rendah di dalam tubuh. Untuk meningkatkan penyerapan dalam tubuh, salah satu caranya adalah dikombinasikan dengan bahan larut lemak/lipid maupun penambahan piperin dari lada hitam, yang diketahui dapat mengoptimalkan pemanfaatannya dalam tubuh.7,12
Kunyit masuk ke dalam Formularium Obat Herbal Asli Indonesia [Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 6 Tahun 2016] dengan indikasi Gastritis, Dislipidemia, Hepatoprotektor, dan lain sebagainya.8 FDA mengklasifikasi sebagai Generally Recognized as Safe (GRAS). Tidak ada efek toksik setelah pemberian oral 8.000 mg atau 2,2 g tumerik (setara 180 mg Kurkumin) per hari selama 4 bulan.9
Kata kunci: Kunyit; Kurkumin; Maag; Melindungi Lambung; Anti Peradangan; Antioksidan
Daftar Pustaka
Mutmainah SR, Rahmawati N, Nugroho AE. Gastroprotective effects of combination of hot water extracts of turmeric (Curcuma domestica L.), cardamom pods (Ammomum compactum S.) and sembung leaf (Blumea balsamifera DC.) against aspirin-induced gastric ulcer model in rats. Asian Pac J Trop Biomed. 2014;4(Suppl 1):S500-S504. doi:10.12980/APJTB.4.2014C972.
Badan Pengawas Obat dan Makanan. Serial Tanaman Obat: Kunyit. Badan POM; 2006.
Prucksunand C, Indrasukhari B, Leethochawalit M, Hungspreugs K. Phase II clinical trial on effect of the long turmeric (Curcuma longa Linn) on healing of peptic ulcer. Southeast Asian J Trop Med Public Health. 2001;32(1):208-215
Yongwatana K, Harinwan K, Chirapongsathorn S, et al. Curcuma longa Linn versus omeprazole in treatment of functional dyspepsia: A randomized, double-blind, placebo-controlled trial. J Gastroenterol Hepatol. 2022;37(2):335-341. doi:10.1111/jgh.15705.
Boroumand N, Saeed S, Seyed IH. Immunomodulatory, anti-inflammatory, and antioxidant effects of curcumin. Journal of Herbmed Pharmacology. 2018; 7(4): 211-219. doi: 10.15171/jhp.2018.33.
Chandran B, Goel A. A randomized, pilot study to assess the efficacy and safety of curcumin in patients with active rheumatoid arthritis. Phytother Res. 2012; 26(11): 1719-1725. doi:10.1002/ptr.4639.
Fuloria S, Mehta J, Chandel A, et al. A Comprehensive Review on the Therapeutic Potential of Curcuma longa Linn. in Relation to its Major Active Constituent Kurkumin. Front Pharmacol. 2022; 13(820806): 1-27. doi:10.3389/fphar.2022.820806.
Navekar R, Rafraf M, Ghaffari A, Asghari-Jafarabadi M, Khoshbaten M. Turmeric Supplementation Improves Serum Glucose Indices and Leptin Levels in Patients with Nonalcoholic Fatty Liver Diseases. J Am Coll Nutr. 2017; 36(4): 261-267. doi:10.1080/07315724.2016.1267597
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2016 tentang Formularium Obat Herbal Asli Indonesia. Kementerian Kesehatan RI; 2016.
Kwiecien S, Magierowski M, Majka J, et al. Curcumin: A Potent Protectant against Esophageal and Gastric Disorders. Int J Mol Sci. 2019;20(6): 477. doi: 10.3390/ijms20061477.
Gambar: shutterstock.com
Abdelazeem B, Awad AK, Elbadawy MA, et al. The effects of curcumin as dietary supplement for patients with COVID-19: A systematic review of randomized clinical trials. Drug Discov Ther. 2022;16(1):14-22. doi:10.5582/ddt.2022.01017
Juffrie M, Sudarmo SM, Bardosono S, Suryawan A, Hildayani R, Sungkar A. Kesehatan pencernaan awal tumbuh kembang yang sehat. Universitas Indonesia Publishing; 2018.
Peterson CT, Vaughn AR, Sharma V, et al. Effects of Turmeric and Curcumin Dietary Supplementation on Human Gut Microbiota: A Double-Blind, Randomized, Placebo-Controlled Pilot Study. J Evid Based Integr Med. 2018; 23. doi:10.1177/2515690X1879072





