
Daun Tapak Liman1
Elephantopus scaber L. disebut pula daun Tapak Liman, merupakan tumbuhan liar yang tersebar hampir di seluruh provinsi Laos, dan juga banyak ditemukan di wilayah Asia Tenggara lainnya. Tanaman ini banyak ditemukan di padang rumput, atau di tepi sawah dan sangat tahan terhadap kekeringan.2 Secara Tradisional di wilayah Asia Tenggara, Tapak Liman banyak digunakan sebagai diuretik/ peluruh kencing, penurun demam, dan pelembut kulit. Di Malaysia, rebusan daun atau akarnya juga digunakan sebagai tonik dan antelmintik/ obat cacing, serta untuk mengobati batuk, dan penyakit kelamin.8
Morfologi Daun Tapak Liman
Tanaman Tapak Liman adalah herba tegak yang dapat tumbuh hingga sekitar 80 cm. Batangnya kaku dan memiliki rambut panjang yang menempel atau terasa kasar. Daunnya membentuk roset di bagian pangkal, sedangkan daun di batang lebih kecil, berbentuk lonjong hingga seperti sendok.8
Kandungan Daun Tapak Liman
Tapak Liman mengandung beragam senyawa fitokimia meliputi Seskuiterpen lakton, triterpenoid, flavonoid, phenolic, dan essential oil. Seskuiterpen lakton diduga menjadi golongan utama yang berkontribusi terhadap efek kesehatan dari Tapak Liman. Senyawa seskuiterpen yang sering diidentifikasi adalah deoksielephatopin, isodeoksielephantopin, scabertopin, dan isoscabertopin.5
Khasiat Daun Tapak Liman
Daun Tapak Liman banyak digunakan sebagai diuretik (peluruh kencing) dan penurun demam di Asia Tenggara. Menurut Medicinal Herb Index Indonesia, seluruh bagian Tapak Liman termasuk daunnya memiliki manfaat untuk keputihan, cacar, anemia, diare, demam, dan batuk.3,4
Asam Urat
Subjek: 24 tikus dengan hiperurisemia (kadar asam urat tinggi) dengan BB 190-250 g
Dosis: Ekstrak daun Tapak Liman 175 – 700 mg/200 g BB tikus (500 mg bubuk daun Tapak Liman diekstraksi maserasi dengan 70% etanol)
Durasi: 15 hari
Hasil: Semua dosis menurunkan kadar asam urat, dengan 350 mg/200 g BB menunjukkan efek paling kuat yang setara dengan allopurinol. Terdapat sekitar 7 turunan asam salisilat dan sekitar 4 turunan asam fenolik dan flavonoid dalam ekstrak etanol daun Tapak Liman. Senyawa kimia ini diduga kuat memiliki khasiat untuk menurunkan asam urat dalam darah, karena struktur dasarnya tampak serupa dengan obat-obatan penurun asam urat seperti allopurinol.6

Senyawa kimia dalam Tapak Liman yang memiliki struktur dasar mirip dengan allopurinol.6
Antibakteri
Penelitian skala laboratorium (pada sel dan hewan uji) Tapak Liman sebagai antimikroba telah banyak diuji baik terhadap bakteri maupun jamur. Penelitian laboratorium menunjukkan bahwa ekstrak tanaman ini mampu menghambat pertumbuhan bakteri gram positif dan gram negatif. Pada konsentrasi tertentu, daya hambatnya bahkan sebanding dengan antibiotik standar. Aktivitas antimikroba ini diduga berasal dari kandungan senyawa aktif seperti flavonoid, saponin, triterpenoid, dan minyak atsiri yang terdapat dalam tanaman Tapak Liman.7
Keamanan
Berdasarkan studi literatur, telah terdapat beberapa uji toksisitas terkait herba Tapak Liman baik per oral dan intraperitoneal. Pada uji toksisitas akut peroral tidak tercatat efek toksik setelah 14 hari pengobatan ekstrak etanol daun Tapak Liman dengan dosis 5000 mg/kg BB mencit.5
Kata kunci: Elephantopus scaber; Tapak Liman; Diuretik; Peluruh Kencing; Asam Urat; Antibakteri; Cacingan; Pereda Demam; Keputihan;
Daftar Pustaka
Gambar: https://ms.wikipedia.org/wiki/Tutup_bumi
Ali RM, Samah ZA, Mustapha NM, Hussein N. ASEAN Herbal and Medicinal Plants. The ASEAN Secretariat; 2010. ISBN 978-979-3496-92-4
Prosea Board of Trustees & Personel. PROSEA; Plant Resources of South East Asia. No 12(1). Backhuys Publishers; 1999. ISBN 90-5782-042-0.
Esai Indonesia. Medicinal Herb Index in Indonesia. 2nd Ed. PT. Esai Indonesia; 1995.
Sachin M. Hiradeve, Vinod D. Rangari.Elephantopus scaber Linn.: A review on its ethnomedical, phytochemical and pharmacological profile, Journal of Applied Biomedicine. 2014; 12(2): 49-61.
Musdja MY, Azter AA, Musir A.The Effect of Ethanol Extract of Elephantopus Scaber Linn in Decreasing Blood Uric Acid Levels of Hyperuricemic Male Rats”. European Journal of Medicinal Plants. 2019; 28 (4):1-9.
Marina Silalahi. Utilization of Elephantopus scaber as traditional medicine and its bioactivity. GSC Biological and Pharmaceutical Sciences. 2021; 15(1): 112-118.
Ng Lean Teik. Elephantopus scaber L. In: de Padua LS, Bunyapraphatsara N, Lemmens RHMJ, eds. Plant Resources of South-East Asia No. 12(1): Medicinal and Poisonous Plants 1. PROSEA Foundation; 1999. Accessed April 11, 2026. http://prota4u.org/prosea.




