
Daun Beluntas1
Pluchea indica Folium atau Beluntas berasal dari India dan menyebar ke China bagian Selatan, Indo-China, Thailand, Malaysia, Indonesia, Australia, dan pulau-pulau Pasifik.1 Di Indonesia, Daun Beluntas dikonsumsi untuk mengatasi bau mulut dan bau badan. Di Malaysia, Indo-China, dan India, rebusan daun, atau daun segar digunakan terutama sebagai obat penurun demam, peluruh kencing, dan sakit perut.6
Morfologi Daun Beluntas
Berupa helaian daun hijau bertangkai, bentuk bulat telur sampai jorong, pangkal runcing, tepi bergerigi tajam, ujung meruncing, pertulangan daun menyirip, kedua permukaan kasar, ibu tulang daun menonjol ke permukaan bawah.5
Komposisi Daun Beluntas
Daun Beluntas mengandung senyawa aktif diantaranya adalah asam caffeoylquinic, asam fenolik, flavonoid dan tiofena.2
Khasiat Daun Beluntas
Senyawa aktif Daun Beluntas memiliki aktivitas sebagai antioksidan, dan antibakteri. Sifat antioksidan Daun Beluntas tergolong kuat, efek antibakteri Daun Beluntas dapat menghambat pertumbuhan bakteri Gram-positif dan Gram-negatif.2
Studi Literatur:
Subjek: 26 remaja putri yang memiliki masalah bau badan
Dosis penelitian: Ramuan jamu untuk bau badan (berisi: bubuk daun Beluntas, daun Sirih, Jahe, dan Asam Kandis) 1 x 1 sachet 25 gram.
Durasi: 14 hari
Hasil: 92,3% responden pada grup intervensi sudah tidak memiliki bau badan tidak sedap. Dari hasil penelitian disimpulkan ramuan jamu termasuk didalamnya daun Beluntas & daun Sirih efektif mengurangi bau badan. Hal ini kemungkinan disebabkan efek anti bakteri khususnya Staphylococcus epidermidis yang sering memicu bau badan.3
Keamanan
Daun Beluntas memiliki profil keamanan yang baik. Studi toksisitas pada hewan menunjukkan bahwa pemberian seduhan daun Beluntas dengan dosis 600 mg/kg/hari pada tikus tidak menimbulkan efek toksik bagi ginjal, hati, dan darah. Ekstrak metanol daun Beluntas tidak menunjukkan tanda toksik pada tikus hingga dosis 3.200 mg/kg secara oral.4
Kata kunci: Pluchea indica; Beluntas; Caffeoylquinic; Anti Bakteri; Bau Mulut; Bau Badan; Sakit Perut.
Daftar Pustaka
Gambar: shutterstock.com
Chan E, Ng YK, Wong S, ChanH. Pluchea indica: An updated review of its botany, uses, bioactive compounds and pharmacological properties. Pharmaceutical Sciences Asia. 2022; 49: 77-85. doi: 10.29090/psa.2022.01.21.113.
Yuliana, Windiyati, Nurul A, Melyani, Alexander. Exploration of Potential Antibacterial Plants in Herbal Conditions Against (Staphylococcus Epidermidis) The Cause of Body Odor. The 4th Mitra Husada Health International Conference (MiHHICo). 2024; 4.
Ibrahim SRM, Bagalagel AA, Diri RM, Noor AO, Bakhsh HT, Mohamed GA. Phytoconstituents and Pharmacological Activities of Indian Camphorweed (Pluchea indica): A Multi-Potential Medicinal Plant of Nutritional and Ethnomedicinal Importance. Molecules. 2022;27(8):2383.. doi:10.3390/molecules27082383.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Farmakope Herbal Indonesia Edisi II. Kementerian Kesehatan RI; 2017.
Raharjo I, Horsten SFAJ. Pluchea indica (L.) Less. In: van Valkenburg JLCH, Bunyapraphatsara N, eds. Plant Resources of South-East Asia No 12(2): Medicinal and Poisonous Plants 2. PROSEA Foundation; 2001. Accessed April 10, 2026. https://prota4u.org/prosea.
