
Pala1
Myristica fragrans atau disebut juga Pala merupakan tanaman asli Indonesia yang berasal dari kepulauan Maluku dan sudah terkenal sebagai tanaman rempah sejak abad ke-18. Pada ramuan tradisional, dapat dimanfaatkan sebagai obat susah tidur atau mengatasi kecemasan.3 Bagian yang digunakan sebagai obat tradisional adalah biji nya yang telah masak, dikeringkan hingga berwarna coklat dan memiliki aroma hangat dan kuat. Sedangkan selaput merah/ oranye tipis yang membungkus biji Pala disebut dengan Mace, memiliki rasa lebih ringan dan manis.2,3
Morfologi Biji Pala
Berupa biji, bentuk bulat atau bulat telur, permukaan luar beralur dangkal, terdapat anyaman berbentuk seperti jala, bagian liang biji membulat, ujung biji runcing, jika ditekan biji bagian dalam yang memar mengeluarkan minyak coklat kemerahan; permukaan luar coklat muda sampai coklat kelabu dengan bintik dan garis-garis kemerahan.9
Kandungan Biji Pala
Biji Pala setidaknya mengandung minyak atsiri kira-kira 10% (terpen, kamfen, sabinen, pinen), 60-80% turunan terpen (linalool, geraniol, terpinol) dan 5-15% fenilpropanoid (miristisin, elemisin, safrol, dan eugenol). Senyawa identitas dari biji Pala adalah miristisin.2,3
Khasiat Biji Pala
Secara tradisional, Pala dimanfaatkan untuk masalah pencernaan, membantu gejala sulit tidur, dan meringankan nyeri/ pegal.2,3
Sedatif dan kualitas tidur
Subjek: 8 orang dewasa sehatDosis/Intervensi: Aromaterapi Pala selama sesi tidur (5 tetes minyak esensial Pala murni yang dibubuhkan pada kapas dan diletakkan di bantal subjek)
Durasi: Diamati kualitas tidur selama 60 menit
Hasil: Pemberian aromaterapi Pala meningkatkan beberapa parameter tidur, termasuk mempercepat waktu mulai tidur (latency), menambah durasi tidur secara keseluruhan, dan meningkatkan efisiensi tidur berdasarkan pengukuran elektroensefalografi (EEG).4
Analgetik/ Pereda nyeri
Subjek: 48 mencit yang diinduksi nyeri visceral (BB: 20-25 gram)
Dosis: Alkaloid ekstrak biji Pala 0,5 g/kg dan 1 g/kg secara oral (bahan awal sebanyak 20 g biji Pala diekstraksi dalam 200 ml etil alkohol 95%)
Durasi: Sekali pemberian diikuti pengamatan perilaku nyeri
Hasil: dosis 1 g/kg secara signifikan mengurangi respons nyeri pada mencit betina tetapi tidak pada jantan. Dosis 0,5 g/kg tidak menunjukkan efek analgesik yang signifikan.5
Afrodisiak/ Meningkatkan libido
Dosis: Ekstrak etanol 50% biji Pala 100, 250, 500 mg/kg oral
Subjek: 30 tikus jantan (BB: 350-400 gram)
Durasi: 7 hari
Hasil: Terjadi peningkatan aktivitas seksual tikus jantan yang signifikan dan berkelanjutan terutama pada dosis 500 mg/kgBB tikus. Tidak terjadi efek samping dan toksisitas yang signifikan pada seluruh hewan uji.6
Keamanan
Pala masuk dalam Formularium Obat Herbal Asli Indonesia dengan indikasi herbal untuk insomnia.7 Pala tergolong aman dengan lethal dose (LD50) dari toksisitas akut: LD₅₀ > 5 g/kg BB tikus.5 Senyawa miristisin dan elemisin dalam dosis tinggi dapat menyebabkan efek halusinogen, gejala dapat muncul mulai dari konsumsi 10 – 15 gram Pala, atau sekitar 400 mg myristicin (setara dengan 6-6 mg/kg).8
Kata kunci: Myristica fragrans; Biji Pala; Miristisin; Sedatif; Pereda Nyeri; Peningkat Libido; Susah Tidur; Kecemasan; Insomnia; Kualtitas Tidur; Anti Radang; Pegal Linu; Nyeri Sendi; Sakit Kepala; Pusing; Migrain
Daftar Pustaka
Gambar: vecteezy.com
Chevallier A. Encyclopedia of Herbal Medicine. 3rd ed. DK Publishing; 2016. ISBN: 978-1-4654-4981-8.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Vademekum Tanaman Obat untuk Saintifikasi Jamu Jilid 2. Kementerian Kesehatan RI; 2011.
Supantini D, Gunawan D, Ratnadewi R, Chandrasasmita D. Pengaruh aromaterapi Pala (Myristica fragrans) terhadap parameter tidur orang dewasa berdasarkan elektroensefalografi (EEG). Journal of Medicine and Health. 2024; 6(2): 47-57.
Hayfaa AA, Sahar AM, Awatif MA. Evaluation of analgesic activity and toxicity of alkaloids in Myristica fragrans seeds in mice. Journal of Pain Research. 2013: 611-615.
Tajuddin, Ahmad S, Latif A, Qasmi IA, Amin KM. An experimental study of sexual function improving effect of Myristica fragrans Houtt. (nutmeg). BMC Complement Altern Med. 2005;5:16. doi:10.1186/1472-6882-5-16.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2016 tentang Formularium Obat Herbal Asli Indonesia. Kementerian Kesehatan RI; 2016.
Seneme EF, Dos Santos DC, Silva EMR, Franco YEM, Longato GB. Pharmacological and Therapeutic Potential of Myristicin: A Literature Review. Molecules. 2021;26(19):5914. doi:10.3390/molecules26195914.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Farmakope Herbal Indonesia Edisi II. Kementerian Kesehatan RI; 2017.






